October 28, 2004

14

jalan ini semakin letih dan berdebu
panas yang meruap mengirim anakanak luka
ke pangkuan hari yang lelah yang basah

ada yang terlempar dari lorong
lorong tak berpintu, menumbuhkan keluh juga peluh
kota ini semakin tak nyaman
hanya gelisah yang tumbuh mengakar
dan takut yang semakin lebat berbuah

di ujung jalan,
orangorang antri menunggu musim berganti

BumiAllah, 28 oktober 2004

October 27, 2004

13

tibatiba tuhan bercanda lagi
dipertemukannya kau dan aku
kita kembali menyusuri malam
menitipkan mimpi pada kabut dan gigilnya
mengulang kisah yang usang dalam ingatan

malam tanpa sepeda
hanya ranselransel tua dari masalalu
mereka bercerita banyak peristiwa
tentang rambutmu yang memanjang
tentang perjalanan penuh luka
tentang mimpi dan lelucon tolol

kau, hanya kau
hanya matamu yang semakin tajam
dan kalimatmu yang bertambah kelam

tuhan memang tengah bercanda
dan kita telah membuatnya tertawa.

BumiAllah, 27 oktober 2004

October 26, 2004

12

dosa ini milik siapa bapa?
masa yang karam dengan dusta
detikdetik yang membukit
waktu yang mengabu
semuanya telah selesai
dalam satu tikaman kesalahan
dan tak pernah ada yang tahu,
diamdiam semua mata berdarah
dengan mulut terkunci penuh.

BumiAllah, 26 oktober 2004

October 25, 2004

11

jika kau ingin pergi
berlalulah tanpa berlari
sebab pelarian hanyalah kepengecutan
paling menyebalkan

October 24, 2004

10

ketika jam dentingnya sepuluh kali
dan malam diamdiam menikam jantung
tibatiba aku teringat kau
teringat dunia yang gila katamu
teringat bijibiji keyboard yang tak pernah tumbuh
teringat sunyi dan puisi basi

kita memang tak pernah bicara tentang cinta
sebab cinta yang setia mengajari kita
tentang sakit yang melahirkan puisi
tentang luka yang jadi pertanda
tentang cemburu yang mengabukan kenangan

mungkin rembulan senantiasa membawa ingatan
hingga kau hadir begitu saja
diantara kertaskertas kosong
diantara jutaan huruf tanpa makna
diantara bayangbayang asing lainnya

ketika jam dentingnya sepuluh kali
dan malam diamdiam menikam jantung
senyummu hadir lagi dalam benakku.

BumiAllah, 24 oktober 2004

October 23, 2004

09

jika nurani bicara setiap saat
mungkin tak ada rentetan benci, dendam
dan amarah yang menyerbu jantung kiriku
dan perang mungkin tak pernah terjadi

puluhan abad lalu,
nurani kalah oleh nafsu
pun juga masa ini

tapi ini malam,
izinkan nuraniku berteriak
mencaci diri sendiri
memaki ketololan diri
memusnahkan penyakit hati dengan dzikir tanpa henti.

BumiAllah, 23 oktober 2004

October 22, 2004

08

tak ada yang pernah benarbenar saling mengenal
sebab hanya waktu dan ruang yang mempertemukan kita
untuk saling berbagi cerita

tak ada yang pernah benarbenar saling memahami
hanya pemaklumanpemakluman pada peristiwa
yang terjadi dalam kurun masa yang sama
hingga selalu ada maaf untuk setiap kesalahan

tak ada yang pernah benarbenar saling mencintai
sebab hanya harapan dan impian sama
yang tak dimiliki siapapun
menjadi jembatan membangun sebuah ikatan
setelah rindu datang menyerbu

tak ada yang pernah benarbenar menyadari
bahwa kita hanya singgah di pelataran waktu
miliknya.

BumiAllah, 22 oktober 2004

October 21, 2004

07

bulan separuh memeluk sunyiku
menjadi satusatunya saksi, namamu
masih juga kulafalkan dalam doa

waktu yang maraton. mungkin akan
membawa kita pada sebuah persimpangan
hingga jabat erat adalah harapan
yang jadi kenyataan

dalam dadaku
ribuan kunangkunang terbang
menuju negeri paling malam
menuntaskan satu demi satu rindu

sedang bulan separuh masih sendiri
menanti bebintang yang terlambat datang.

BumiAllah, 21 oktober 2004

October 20, 2004

06

ini bukan puisi.
anggap saja sebuah surat yang sudah lama ingin kutulis untukmu, namun selalu ragu. aku tahu, aku tak pantas memasuki ruang batinmu, tapi izinkanlah aku untuk sekedar istirah di berandanya. melafalkan dzikir dan doa kecil, mentasbihkan kembali syahadat yang mulai berkarat.

kita memang tak harus saling memaafkan jika dengki ini masih setia di pojok hati. tapi aku tahu, dalam jiwamu tak pernah ada iri. dan aku akan begitu nista jika tetap keras kepala. akhirnya, diamdiam kuikhlaskan juga seluruh prasangka.

ini bukan puisi.
anggap saja ucapan terima kasih bahwa kau masih mau menemuiku, memeluk erat tubuh ringkih ini, menghangatkannya dalam seribu bulan.

ini untukmu, ramadhan.

BumiAllah, 20 oktober 2004

October 19, 2004

05

ini negeri terbakar lagi
mengabukan kenangan demi kenangan
di sepanjang jalan menuju rumahmu

jelaga jadi pertanda dendam belum selesai
ada dengki yang tak kunjung usai

kemarau tak kunjung padam di kota ini
menyisakan reruntuhan hitam
dalam musim ingatan

tuhan,
tangis langitmulah yang kuharapkan
bukan tangis bocahbocah dengan luka bakar.

BumiAllah, 19 oktober 2004