inilah rindu yang masih akan terus mengalir sampai ke senja.
August 31, 2009
10
jalan-jalan inilah yang telah membawaku padamu telah kulukis seluruh sakit di tubuhmu lalu kuberi warna matahari seperti dulu telah kau beri aku cahayanya
kami kembali bocah, kembali kanak seperti juga waktu, senantiasa kembali pada satu kami ingin menjelma bayi di detik-detik paling hakiki di hadapanmu, kekasih
segalanya telah menjelma sungai alir yang setia mencari laut, menuju samudera aku padamu adalah pejalan pada langkah segala kesetiaan telah kutegakkan kini aku berdiri sebagai pecinta tegak memujamu, kekasih
gerimis ini, kekasih dia yang mengantarkanku menjauh darimu seperti kisah cinta yang lain juga aku lebih memilih gerimis agar kelak kau bisa melihat pelangi di antara senja dan warna jingga
demi bukit-bukit hijau keemasan kami melangkah di pematang, menyusur alur sungai bersama lumpur sawah kami menunggu benih-benih tumbuh sementara sungai setia menjadi ibu bagi cemas yang kian gemas kami memuja sawah, memuja ladang sebagai tempat kembali pada diri.
di atas meja ini kami menyusun rencana mencoba menemukan alur bagi kesetiaan yang biru di tangan kami terlipat peta, musim, dan sebuah kota kelak, jika waktunya tiba seseorang akan mengabarkan padamu kami berjalan menuju sebuah musim di sebuah kota dengan sebuah peta.
di puncak gunung itu, kami mencipta musim sendiri membangun perahu bagi segenap kisah yang tak merdu dan di atas menara itu, kami serupa Nuh menangkap gelagat dari siasat semesta di antara kami tak ada yang tahu kapan mesti berlayar tapi kata-kata telah menjelma laut melayarkan perahu ke segenap penjuru.
kami menyusur tubuh subuh ketika kata-kata menjelma doa di jalan yang sama, kami menatap cuaca tenggelam ke balik malam ketika sumur di belakang rumah kembali kering kami menemukan doa yang basah di atas sajadah menenggelamkan sakit, mengalirkan sengit menuju laut hidup, menujumu, kekasih!