September 10, 2008

10

tutuplah pintu
hujan telah membuat air jatuh ke teras
dan di antara kita tak usah lagi berkeras
menyatakan siapa yang lebih berduka
dan seberapa dalam ini luka

hujan yang semakin deras
dia lebih paham muasal kesedihan
sebelum kita membuatnya lebih rumit

10 ramadhan 1429 H

September 09, 2008

09

hujan sore ini telah mengguyur atap
yang berkarat. segala yang dulu terasa berat
jatuh bersama tetesan air, terserap tanah

dan suaramu malam tadi
membawaku kembali pada kota
dengan aroma kematian yang menyengat

senja ini, bau hujan membawaku
kembali padamu

09 ramadhan 1429 H

September 08, 2008

08

jika pada akhirnya aku memilih jalan ini
aku telah mengunci mati semua pintu

akan kubakar segala hal
akan kucucuk lidahku
agar segalanya tak lagi bisa
membuatku berkata kata

jika pada akhirnya aku memilih
aku memilih diam
sebagai jalan

08 ramadhan 1429 H

September 07, 2008

07

menjadi stasiun adalah memahami gelisah gerbong
gerbong. di derit dan lengking keberangkatan
selalu ada yang terselip dalam lambaian tangan
serupa ingatan tentang kesedihan

menjadi stasiun adalah membiarkan segenap udara
terbuka pada segala rasa, pada aroma yang tak biasa
seperti warna kotamu pada satu waktu;
subuh itu

07 ramadhan 1429 H

September 06, 2008

06

tampakkan wajahmu, wahai kecemasan
aku ingin menatapmu lekat
mencari muasal segala kekisruhan dalam batin
menemukan alurnya pada garis garis wajahmu

tunjukan wujudmu, wahai kecemasan
aku ingin berjabat erat
merasakan hangat genggaman
tempat segala malapetaka bermula

06 ramadhan 1429 H

September 05, 2008

05

asbak ini, sayang
dia telah menampung abu kecemasan
di malam malam yang kulewati
setiap duka yang datang dan pergi
segalanya menguap
jadi asap

05 ramadhan 1429 H

September 04, 2008

04

di linglung jam
aku mencoba menemukan lagi cuaca yang dulu
dulu ketika kamu belum menemukan aku
dan aku belum menemukanmu

nyatanya
aku hanya mendapati jejak hujan
yang menuntunku menemukan bekas sepatumu
di basah tanah dan hitam jalan

aku ingin kembali
tapi berbalik arah hanya akan menyesatkanku lagi
mempertegas jejak yang kamu tinggalkan

04 ramadhan 1429 H

September 03, 2008

03

malam makin sungsang
aku mendengarkan iwan yang fals bernyanyi
menyanyikan lagu tentang sawah;
rumah yang sudah lama kita tinggalkan

hari ini tak ada koran
tapi amis darah itu masih tercium juga
sebab tak ada yang berani mematikan televisi

siapa yang datang di tengah malam, sayang?
tutup jendela, kunci pintu dan matikan lampu
aku tak ingin salak anjing itu masuk ke dalam mimpi

03 ramadhan 1429 H

September 02, 2008

02

daratan hijau itukah yang nampak sempurna dari balik kaca?
daratan yang membawa kapalkapal berlabuh
menanam jangkar di kedalaman

angin mungkin juga cuaca masih yang itu itu juga
tapi kapal, dia bersilangan, datang dan pergi
dan setiap pelabuhan, dia terbuka bagi siapa saja
juga cahaya mercusuar, setia menjadi alamat
bagi setiap kedatangan

aku di sini, menatap laut lepas
merasakan, betapa dirimu kian jauh melesat
mengemas segalanya dengan cepat

02 ramadhan 1429 H

September 01, 2008

01

aku terlempar ke luar jalan
tersesat di hitam aspal yang tak kukenal
sedang subuh selalu berhasil mengirim dingin
sampai ke tulang sumsum

aku berharap suaramu tidak menjelma lindu
menghanyutkan semua yang kumiliki
hingga tak lagi tersisa
pun juga kenangan

di jalan ini
aku menukar suaramu dengan dingin

01 ramadhan 1429 H