09
subuh lindap di bawah lipatan langit jogja
ruang itu akhirnya kutemukan di sini
tapi masih saja tak kutemukan peta itu
hanya jeda dan kekosongan yang kian hari kian memanjang
seperti labirin sunyi yang dulu sempat kau buat untukku
09 Ramadhan 1427 H
October 02, 2006
October 01, 2006
08
15 oktober 2004 adalah hari pertama saya munggah di Jogja. Saya ingat betul bagaimana kami berburu sahur. Saya ditemani empat lelaki bajingan menginap di sebuah hotel murahan di Jogja. Waktu itu saya menemani seorang lelaki, yang kini sudah menjadi PNS, untuk mengantarkan novelnya pada sebuah penerbit di Jogja.
Sekarang, 01 Oktober 2006, novel tersebut belum juga terbit. Tapi saya kembali harus mengalami hal yang sama. Sahur di Jogja. Saya ditemani enam lelaki (apakah mereka juga bajingan? saya tak tahu pasti) bersama-sama sahur, dan tentu saja ini bisa dibilang sahur sekaligus berbuka. Sebab sejak berbuka kemarin, perut kami belum terisi nasi.
Ramadhan di Jogja saya pikir tak akan terulang lagi setelah 2004 itu. Tapi peta nasib berkata lain saudara-saudara!
08 Ramadhan 1427 H
15 oktober 2004 adalah hari pertama saya munggah di Jogja. Saya ingat betul bagaimana kami berburu sahur. Saya ditemani empat lelaki bajingan menginap di sebuah hotel murahan di Jogja. Waktu itu saya menemani seorang lelaki, yang kini sudah menjadi PNS, untuk mengantarkan novelnya pada sebuah penerbit di Jogja.
Sekarang, 01 Oktober 2006, novel tersebut belum juga terbit. Tapi saya kembali harus mengalami hal yang sama. Sahur di Jogja. Saya ditemani enam lelaki (apakah mereka juga bajingan? saya tak tahu pasti) bersama-sama sahur, dan tentu saja ini bisa dibilang sahur sekaligus berbuka. Sebab sejak berbuka kemarin, perut kami belum terisi nasi.
Ramadhan di Jogja saya pikir tak akan terulang lagi setelah 2004 itu. Tapi peta nasib berkata lain saudara-saudara!
08 Ramadhan 1427 H
September 30, 2006
07
Bang Saut yang penyair itu, malam ini menodong saya menjadi pembawa acara.
Maka, dengan mengumpulkan segenap energi dan tentu saja keberanian (karena saya berada di antara banyak nama-nama besar), saya memberanikan diri menjelma MC.
Selamat dan sukses untuk launching kedua buku Jogja 5,9 Skala Richter di Forum Kedai Kebun, Jalan Tirtodipuran 3, Jogja.
07 Ramadhan 1427 H.
Bang Saut yang penyair itu, malam ini menodong saya menjadi pembawa acara.
Maka, dengan mengumpulkan segenap energi dan tentu saja keberanian (karena saya berada di antara banyak nama-nama besar), saya memberanikan diri menjelma MC.
Selamat dan sukses untuk launching kedua buku Jogja 5,9 Skala Richter di Forum Kedai Kebun, Jalan Tirtodipuran 3, Jogja.
07 Ramadhan 1427 H.
September 29, 2006
06
malam ini saya kembali berangkat
menuju aroma pekat paling likat
mencoba memahami kembali arti kereta
juga sebuah stasiun yang menunggu
malam ini saya kembali berangkat
menjejak tanah asing bagi jiwa saya yang kering
semoga saja ada peta yang bisa membawa saya
memangkas jalan menemukan makna kuncikunci
yang berserakan dalam tas
sebab saya seringkali tak punya pintu
sekadar mencari tahu
apakah kunci saya cocok dengan sebuah lubang
agar sebuah ruang benarbenar bisa disinggahi.
06 Ramadhan 1427 H
malam ini saya kembali berangkat
menuju aroma pekat paling likat
mencoba memahami kembali arti kereta
juga sebuah stasiun yang menunggu
malam ini saya kembali berangkat
menjejak tanah asing bagi jiwa saya yang kering
semoga saja ada peta yang bisa membawa saya
memangkas jalan menemukan makna kuncikunci
yang berserakan dalam tas
sebab saya seringkali tak punya pintu
sekadar mencari tahu
apakah kunci saya cocok dengan sebuah lubang
agar sebuah ruang benarbenar bisa disinggahi.
06 Ramadhan 1427 H
September 28, 2006
September 27, 2006
September 26, 2006
September 25, 2006
September 24, 2006
September 23, 2006
sehari sebelum ramadhan
ketika orang-orang sedang sibuk menyiapkan segalanya untuk puasa pertama. aku malah disibukkan dengan persiapan buletin daun jati edisi ketiga. daun jati, sebuah buletin sederhana yang dibuat teman-teman satu kelas. aku sebagai pemimpin redaksi sepertinya memang harus ekstra tenaga. karena selain memilih naskah mana yang layak, aku juga harus mengeditnya. beberapa tulisan benar-benar kacau dalam tata bahasanya. aku memang harus memaklumi. kami bukan orang bahasa kan?
edisi ketiga ini kami beri nama edisi anjing. kasar? tentu tidak. bukankah kami terbiasa memaki dan dimaki dengan kata-kata itu?
Lengkong Besar, 23 September 2006
ketika orang-orang sedang sibuk menyiapkan segalanya untuk puasa pertama. aku malah disibukkan dengan persiapan buletin daun jati edisi ketiga. daun jati, sebuah buletin sederhana yang dibuat teman-teman satu kelas. aku sebagai pemimpin redaksi sepertinya memang harus ekstra tenaga. karena selain memilih naskah mana yang layak, aku juga harus mengeditnya. beberapa tulisan benar-benar kacau dalam tata bahasanya. aku memang harus memaklumi. kami bukan orang bahasa kan?
edisi ketiga ini kami beri nama edisi anjing. kasar? tentu tidak. bukankah kami terbiasa memaki dan dimaki dengan kata-kata itu?
Lengkong Besar, 23 September 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)