November 07, 2004

24

musim berganti
hujan itu pun tumbuh juga di matamu

BumiAllah, 07 november 2004

November 06, 2004

23

kembali kita pada satu titik
bertemu untuk saling melukai
kembali kita pada satu titik
berpagut untuk saling mengutuk
kembali kita pada satu titik
bercumbu untuk saling membunuh
kembali kita pada satu titik
memuja untuk saling menyiksa

BumiAllah, 06 november 2004

November 05, 2004

22

senja belum juga tiba, tuhan!
tapi aku merasa dunia telah berakhir
dan langit terbakar.

BumiAllah, 05 november 2004

November 03, 2004

20

cukup sudah kita saling melukai
apalagi hanya soal hujan
yang tak kunjung datang

cukup sudah kita saling memaki
apalagi hanya tentang air
yang kian mengeruh

cukup sudah kita saling mendendam
untuk bumi yang terbakar!

BumiAllah, 03 november 2004

November 02, 2004

19

terima kasih atas jeda panjang yang kau bangun
diantara kalimatkalimat tanpa titik. menyempurnakan
harapan tak berawal. mungkin kita tak perlu lagi
kata untuk saling membunuh. sebab tajam matamu
telah menjelma belati, menikam jantungku bertubitubi

ini untuk mentari yang terbit di timur batinmu
kukecup kesendirian dari bibirmu yang setia
melantunkan luka. kuakrabi sunyi dalam setiap inci
tubuhmu. aku menggaligali sepi dari kedalaman jiwamu

pertemuan kita adalah jabat paling erat
perjamuan duka yang semakin merah
menuntaskan tanya tanpa sebab

ini untukmu,
lakilaki sakit yang kucintai.

BumiAllah, 02 november 2004.

November 01, 2004

18

dua tahun telah lewat
kalender bergerak lebih cepat
hari ini mungkin daur ulang hari kemarin,
ada banyak peristiwa berlalu
bersama tuanya waktu

demikian dengan kau dan aku
kita pernah bertukar kata
menyimpannya dalam lubuk paling ceruk
membiarkannya tumbuh menjadi tunastunas rindu
memekarkan kuntumkuntum cinta
meski tak sempat kita petik

tapi itu dulu
dua tahun yang lalu
sebab nyatanya kita tak pernah nyata
akhirnya hanya jabat erat
terlahir menuntaskan segala duka

dua tahun telah lewat
setelah kutemukan kata itu membusuk
bersama impian dan harapan.

BumiAllah, 01 november 2004

October 31, 2004

17

tibatiba kau tawarkan kepadaku
kematian dengan ribuan kata
sebab tak ada yang lebih menyakitkan
selain kata sakit itu sendiri, ucapmu.

mati bersama dengan kata adalah
membiarkan seluruh frasa abadi
dalam setiap langkah.
leburkan segala prasangka
ini saatnya berpagut, menjadi mayat
menyebrangi lautan duka
mencapai kebahagiaan tanpa nyeri

tibatiba kau tawarkan kematian
paling menyenangkan.

BumiAllah, 31 oktober 2004

October 30, 2004

16

rumah ini berkabut lagi
setelah sekian lama tak pernah ada asap
rokokmu kembali membakar dadaku
membangkitkan kenangan demi kenangan
mengembalikan ingatan yang telah karam
membunuh satu demi satu rindu

kelak, malam ini pun akan tenggelam juga
membeku dalam pikiran
membatu dan sebagian jadi abu

tapi kenapa detikdetik yang lewat ini
terasa begitu menyakitkan?
menyisakan belati bersama warnah merah.
kenapa?

BumiAllah, 30 oktober 2004

October 29, 2004

15

geus mangpirangpirang usum kaliwatan
panon poe nanceb di mumunggang gunung
seja balik, nganteurkeun peuting
jeung sepi jempling

didieu kuring reureuh
sanggeus lumampah ngitung kasalah
ngalengkah ngijir kanyeuri
dina lima belas wanci anu rineh
bulan nu cahyana murub mubyar
poe nu kasaktian nana tanpa wates

kuring eureun didieu
rek muka lawang peteng
nu geus mangpirang alam kakonci

kuring didieu, moal ngelehan
di satengahing jalan.

BumiAllah, 29 oktober 2004